Sebuah Perbincangan Dengan Presiden




Hari ini hari yang spesial. Aku diundang oleh Presiden untuk berbincang santai menghabiskan waktu senja di taman istana. Suatu kehormatan bagiku, untuk bisa berbincang empat mata dengannya.

Sinar matahari yang lembut, dengan warna keemasannya membuat taman ini kian terasa indah. Pancuran air terjun dengan patung putri duyung, teratai besar di kolam buatan, rumput-rumput yang terjaga hijaunya, dan jalan setapak dari batu marmer, inilah taman di Istana orang nomor satu di Indonesia.

Sang Presiden duduk di bangku samping kolam. Pandangannya menadah ke langit, mengagumi langit negrinya yang indah.

Aku menghampiri dan menyapanya dengan sopan. Ia mempersilahkanku duduk berhadapan dengannya.


pixabay.com/arhnue

Beberapa orang bertubuh gagap memperhatikan disisi lain kolam. Mereka selalu siap siaga menghadapi hal terburuk bagi Pak Presiden. Tapi, aku tentu tidak akan melakukan hal yang aneh aneh. Mereka memperhatikan dari jauh, agar memberi kita ruang untuk berbincang dengan bebas.

“Apa kabar anak muda?” Tanya Pak Presiden
“Tentu baik pak, bapak sendiri bagaimana? Pasti sehat kan?”
“Oh tentu,
 Beliau tampak sangat bersahabat dan membuat lupa bahwa yang berada didepanku adalah pemimpin negri ini.

“Aku bukanlah raja, aku tidak akan seumur hidup memimpin negri ini, ada masanya dimana aku selesai bertugas sebagai presiden dan memulai hidup sebagai rakyat biasa,”

Pak Presiden tampak serius dengan tatapan tajamnya.

“Setelah masaku habis, akan ada orang yang menggantiku. Generasi tua akan digantikan oleh generasi muda,”
“Maksud bapak, kami?”
“Tentu, akan ada suatu masa generasi millennial yang memimpin negri ini. Menjadi presiden, duduk di bangku parlemen, merancang undang-undang, menegakkan hukum, dan sebagainya,”

Aku menangguk

“Aku ingin dekat dengan millennial, aku ingin negara mengayomi kalian semua. Oleh karena itu, aku mengundang anda untuk berbincang dengan saya.  Apakah anda bersedia?”

“Oh, tentu pak,”

“Oke kita mulai saja. Sebagai generasi millennial, apa harapan anda untuk Indonesia kedepannya?”
“Saya harap pemerintah bisa menunjang kehidupan kaum Millennial. Ada banyak faktor yang penting, tapi saya merangkumnya menjadi 4 poin.

1. Kestabilan Ekonomi
2. Ketentraman Negara
3. Dukungan Idustri Kreatif
4. Ramah Kaum Millennial

Kurang lebih seperti itu pak,”

Kestabilan Ekonomi

pixabay.com/geralt

“Saya berharap, ekonomi Indonesia stabil untuk saat ini dan untuk masa depan. Setidaknya krisis ekonomi belasan tahun lalu tidak terulang kembali. Termasuk kestabilan kurs rupiah terhadap dollar, semoga tidak ada penaikan atau penurunan secara tajam.

Tingkat inflasi juga jangan terlalu besar. Jangan sampai uang yang sudah kita kumpulkan susah payah, tergerus perlahan oleh angka inflasi.

Tapi dengan kondisi ekonomi saat ini, aku merasa puas dengan kinerja pemerintah. Terima kasih telah menjaga inflasi dititik 3% dan walaupun banyak isu-isu dollar yang kian naik, saya masih bersyukur tidak terjadi kenaikan tajam dan membuat kacau negara.

Pertumbuhan ekonomi sekitar 5% juga menunjukan perkembangan yang tertinggi sejak empat tahun terakhir. Saya berharap kondisi ekonomi Indonesia bisa terjaga seperti ini di masa depan, atau bahkan lebih baik.

Saya tidak ingin terjadi krisis moneter atau hiperinflasi, seperti di Venezuela. Uang seakan seperti sampah yang tidak berharga.

Kami kaum millennial, kaum yang memiliki daya kreatif tinggi yang sebenarnya bisa mengguncang Indonesia, tersia-siakan karena masalah ekonomi. Membuat daya kreatif buntu, dan terpaksa mengais untuk hidup

 Kami tidak mau seperti itu. Beri kami kestabilan ekonomi, dan kami akan memberikan ide dan kreasi yang berguna untuk negri.”

Ketentraman Negara

pixabay.com/fotorect

“Saya berharap Indonesia menjadi negara yang aman dan damai. Kami sebenarnya sudah muak dengan kabar-kabar hoax, isu SARA yang memecah belah bangsa, dan kasus pengkhiantan pejabat dengan kasus korupsi atau suap.

Kami menginginkan negri yang damai. Negri yang aman dari serangan militer negara lain, negara bersatu dan tidak terjadi perpecahan antara suku, agama, atau ras, negara yang mengayomi semua rakyat tanpa memandang status sosial, dan negara yang bersih dari pemerintahan kotor.

Saya percaya Indonesia bisa melakukan itu semua. Saya bersyukur lahir di masa dunia damai, dan tidak terjadi peperangan, walaupun sebenarnya ada dibeberapa wilayah, tapi tidak dalam skala global.
Saya hanya takut akan ancaman dari negri ini sendiri.

Apalagi 17 April lalu kita mengadakan pilpres, dimana pada masa-masa panas tersebut ada saja orang yang membuat sensasi dan kabar-kabar hoax.

Saya tidak mau hubungan pertemanan dengan kawan saya terputuskan oleh kabar-kabar tidak jelas itu. Saya ingin Indonesia yang seutuhnya, Berbeda-beda tapi tetap satu. Saya ingin kedamaian dan ketentraman terjaga di masa depan, dan semoga bisa lebih baik lagi.”

Dukungan Industri Kreatif

pixabay.com/stux

“Saya merasa Industri kreatif kian digandrungi oleh kaum millennial. Apalagi yang mencakup bidang teknologi, berupa Desain Grafis, Audio Video, Fotografil, Animasi, dan sebagainya. Saya banyak memiliki teman yang bergelut di bidang industri kreatif termasuk saya salah-satunya. Kebanyakan mereka menginginkan suatu wadah dari pemerintah untuk mengayomi mereka.

Contohnya Bandung Creative Hub (BCH), tempat dimana kami bisa berkreasi sepuasnya dan menghasilkan karya yang spektakuler. Dengan memberikan fasilitas seperti itu kami sudah sangat terbantu dan dapat berkreasi sepuas-puasnya.

Tapi masalahnya tidak semua kota besar terdapat fasilitas seperti itu. Kita ambil saja sub-sektor industry kreatif yakni desain grafis. Dikota saya, desainer grafis kebanyakan masih bergerak secara mandiri dan tidak tergabung dalam satu komunitas, mungkin bergabung tapi tidak dekat dan aktif.

Mungkin dengan adanya creative center di berbagai kota, bisa menampung orang-orang kreatif dan saling berkolaborasi untuk menciptakan suatu karya yang membuat nama Indonesia kian harum di dunia.

Selain itu juga, kami ingin pemerintah lebih mengapresiasi karya anak bangsa. Sebenarnya apresiasi pemerintah sudah cukup, tapi kami meminta lebih. Kami membutuhkan bantuan pemerintah untuk menyebarkan karya kami ke seluruh Indonesia. Contohnya animasi lokal

 Saya puas dengan animasi Adit dan Sopo Jarwo yang menurut saya bagus dan menarik, dapat di nikmati seluruh anak Indonesia di TV mereka. Tapi sayang, ada beberapa animasi bagus yang terbatas dalam lingkup sosial media saja, seperti Instagram dan Youtube
.
Saya tahu pemerintah memiliki banyak persoalan daripada mengurus hal seperti ini. Tapi kami ingin melihat lebih banyak karya anak bangsa tersiar di TV dirumah. Kami ingin karya indoneisa, tidak hanya animasi  saja yang mendunia. Kami ingin dimasa depan, Indonesia dikenal akan ke-kreatif-an orangnya.”

Ramah Kaum Millennial


“Harapan saya yang terakhir merupakan cangkupan 3 poin sebelumnya. Dengan kinerja pemerintah yang menstabilkan ekonomi, menentramkan bangsa, mendukung industri kreatif, dan membangun infrastruktur internet, pemerintah telah membuat dunia yang ramah terhadap millennials.

Millennials bisa hidup dengan nyaman dan tentram. Mereka bebas bereksresi dan berkarya. Kretifitas benar-benar ditonjolkan disana. Inilah harapan seluruh millennials. Mereka akan mempercayai pemerintah dan mengaguminya. Tidak akan ada salah pemahaman diantara dua pihak, pemerintah dan millennials hidup berdampingan dengan suka ria.”

Kesimpulan

Pak Presiden sedari tadi amat menyimak dengan apa yang aku utarakan. Ia tidak memotong sepatah katapun. Pandangannya dan pikirannya hanya tertuju dengan omonganku.
Setelah aku berhenti berbicara, ia menghela napas yang amat panjang. Ia melepaskan kacamata dan menaruhnya dimeja. Kini ia memandang langit yang berwarna emas.

“Suatu saat dunia yang kalian impikan akan terwujud. Tapi aku mempunyai masalah,”
“Mohon maaf, masalah apa pak?”
“Aku tidak bisa melakukan itu sendiri. Kita adalah negara berkembang yang sedang berusaha membuat tempat yang lebih baik. Masih banyak persoalan yang harus dibahas untuk mensejahterakan saudara-saudara kita. Kita tidak bisa diam terus, kita harus maju. Kita harus tunjukan pada dunia bahwa kita adalah Indonesia”

Ujarnya dengan berapi-api.

“Oleh karena itu, aku mengajak kalian kaum millennial untuk Bersama membangun dunia yang kalian impikan. Untuk maju, kita harus berkerja sama, kita harus memakai kekuatan terbesar di dunia yang dimiliki oleh Indonesia, yaitu 264 juta rakyat.

 Kita bisa bangun dunia tanpa peperangan, damai dan tentram, dengan internet cepat dan murah, ekonomi stabil dan kreatifitas amat dihargai. Jadi, dengan ini saya mengajak kaum millennials untuk membantu saya mewujudkan harapan kalian. Apakah anda bersedia?”
“Tentu!” ujarku

Pak Presiden tertawa. Ia beranjak dan menepuk pundakku. Kami bersalaman sebelum ia pamit dan menuju istana negara. Sudah selesai perannya sebagai teman mengobrolku dan ia bertugas kembali menjadi presiden.

Dibawah langit emas ini ketika matahari mulai menghilang, hari telah berakhir. Esok, ketika matahari membawa cahaya harapan, kita mulai membangun negri ini. Mewujudkan harapan-harapan menjadi nyata, bukan sekedar khayalan yang tertulis ataupun tidak. Hidup baru telah mulai, mari kita buat hidup menjadi lebih baik.

Dengan kekuatan kaum millennial, hal tersebut tidaklah sulit, jika kita semua bersatu untuk mewujudkannya. Saatnya bersatu dan saatnya berjuang!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Berkomentarlah dengan sopan, jangan buang waktu sobat untuk "menyampah"